Ada
sebuah kisah mengenai pohon dan burung yang tumbuh bersama. Mereka
bersahabat, membagi suka dan duka, tak pernah berpisah satu sama lain.
Namun, suatu saat, sang burung harus pergi, terpaksa meninggalkan
sahabatnya. Apalah daya sang pohon, dia tak memiliki kaki untuk
melangkah, dia tak memiliki sayap untuk terbang. Dia hanya dapat berdiri
kaku ditempatnya, memandang kepakan sayap sahabatnya yang terbang
menjauh, menuju kehidupan barunya.
Lama mereka tak berjumpa, hanya sesekali sapuan angin dari kepakan
sayap sang burung yang terbang sekilas mengitari sang pohon,
menengoknya, lalu terbang lagi menjauh. Hingga suatu saat, saat sang
burung sedang bercanda ria dengan teman-teman barunya, semilir angin
meniupkan sehelai daun kecokelatan. Jatuh tepat di sayap sang burung. Ia
kenal daun ini, ia kenal aroma dari tiap inci permukaan daun ini, ia
kenal sentuhan lembut daun ini, namun, daun ini terasa sangat dingin, membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Cepat ia kepakan sayapnya, meninggalkan teman-temannya yang berdiri
termangu menatapnya terbang menjauh. Badai yang berhembus kencang tak
menghentikannya melaju melawan angin yang berhembus menggila. Hingga
saat ia tiba, air mata tak dapat berhenti mengalir dari kedua bola
matanya yang jernih. Ia tak lagi melihat sahabatnya berdiri kokoh
disana, tak lagi mendengar bunyi semilir angin yang membelai
dedaunan, tak lagi merasakan sentuhan lembut dedaunan tempat ia biasa
tertidur lelap. Hanya batang tumbang yang terbaring kaku di atas tanah
yang kering gerontang. Tak ada daun yang masih menggantung di ranting,
tak ada air kehidupan yang mengalir di serat-serat batang. Dan sang
burung pun hanya terdiam, memilih tak berkata apa-apa, membisu, melihat
sahabatnya itu perlahan-lahan lapuk hingga menghilang sepenuhnya dari
muka bumi
.
http://fnrturislokal.multiply.com/journal/item/18?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Tidak ada komentar:
Posting Komentar